Jumat, 16 November 2018 | 09.52 WIB
KiniNEWS>Gaya>Hikmah>Segera akhiri hubungan, jika ada kekerasan fisik

Segera akhiri hubungan, jika ada kekerasan fisik

Kamis, 18 Oktober 2018 - 20:53 WIB

IMG-1045

Kekerasan fisik dalam pacaran harus segera diakhiri, karena berpotensi akan meningkat saat setelah menikah.

JAKARTA, kini.co.id – KEKERASAN fisik yang terjadi di rumah tangga semakin marak terjadi. Namun, tindak kekerasan di luar ikatan perkawinan antara pasangan yang masih berpacaran pun bisa terjadi.

“Seperti yang tadinya janji tidak ditepati sampai (ada yang) marah dan sebagainya, lalu terjadi kekerasan fisik dan lain sebagainya.” Demikian kata Asisten Deputi bidang Perlindungan Hak Perempuan dari KDRT Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ali Khasan.

Dia menuturkan itu seusai acara sosialisasi pencegahan KDRT di Manokwari, Rabu (17/10/2018) kemarin.

Pada masa tersebut, dua insan bisa saling mengenal kepribadian satu sama lain dan berujung pada kehidupan baru yang bahagia. Ali menyayangkan ketika “pacaran” tak lagi diartikan sama.

Misalnya, sebagian orang yang berpacaran karena salah satu pihak dianggap kaya raya. Dalam pacaran tentu saja ada perselisihan, namun idealnya tak berujung pada kekerasan. Jika memang tak ada kecocokan, kata Ali, maka dua pihak yang menjalani hubungan tak perlu melanjutkan relasi itu ke jenjang pernikahan.

“Kalau tidak cocok, ada kekerasan dan sebagainya, ya sudah tidak usah berlanjut. Kalau ada kecocokan baru lanjut,” tutur Ali. Baca juga: Hai Perempuan, Lakukan Ini untuk Bangkit dari Trauma Kekerasan…

Meski kekerasan dalam pacaran juga terjadi, namun Kementerian PPPA tak menyusun data terkait kasus semacam ini. Lagi pula, Ali meyakini, jumlahnya tak semarak atau serumit kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Dia menuturkan, untuk kasus KDRT bahkan sudah diatur sendiri dalam undang-undang. Ketika kasus kekerasan dalam pacaran terjadi, korban bisa saja melaporkannya ke penegak hukum. Namun, korban perlu mengklasifikasikan kasusnya terlebih dahulu.

Misalnya, ketika menyangkut anak, maka masuk kategori undang-undang perlindungan anak. Atau, jika masuk ke perdagangan orang, maka berlaku undang-undang tentang tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Kekerasan yang terjadi masuk kategori mana? Biar pihak berwajib melihat unsurnya dulu.” “Memberikan kategori dan menentukan masuk delik mana itu tidak mudah. Dudukkan dulu masalahnya,” kata Ali.

Editor: Emerson

KOMENTAR ANDA
Berita Gaya Terkini Lainnya
Woman - Kamis, 15 November 2018 - 17:53 WIB

UGM tunjuk 7 dosen masuk Tim Etik kasus perkosaan mahasiswa

UNIVERSITAS Gadjah Mada telah menunjuk tujuh dosen untuk masuk dalam tim etik yang dibentuk untuk menangani kasus dugaan pemerkosaan yang ...
Style - Kamis, 15 November 2018 - 17:45 WIB

Indonesia peringkat pertama negara paling dermawan

INDONESIA dinobatkan sebagai negara paling dermawan melalui World Giving Index yang dirilis Charity Aid Foundation (CAF) dengan menempati peringkat pertama.Indonesia ...
Hikmah - Kamis, 15 November 2018 - 12:57 WIB

Turis Rusia tidur di kuburan akibat kehabisan uang

BORIS Osmanov, turis asal Rusia yang dirawat di RSUD dr Moh. Saleh, Kota Probolinggo, Jawa Timur, mengaku kehabisan bekal uang ...
Health - Minggu, 11 November 2018 - 14:13 WIB

Diabetes mengancam kaum pekerja Indonesia

PARA pekerja di Indonesia terancam penyakit diabetes. Penyakit kencing manis yang disebut dengan diabetes tipe dua ini mulai menghantui para ...
Woman - Sabtu, 10 November 2018 - 13:46 WIB

Tak Disangka, Bayi Dalam Kandungan Bakal Bahagia Jika Ibu Lakukan Ini

Hamil merupakan momen bahagia yang dirasakan ibu hingga seluruh keluarga. Banyak yang tak sabar menanti lahirnya sang buah hati yang ...
Food - Kamis, 8 November 2018 - 07:36 WIB

Yummy! Ini Cara Membuat Dimsum Harga Rumahan Rasa Restoran

Dimsum kini menjadi makanan yang hits di tengah masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih beserta cita rasa udang, kepiting, ayam yang ...