Rabu, 20 Maret 2019 | 13.50 WIB
KiniNEWS>Gaya>Hikmah>Segera akhiri hubungan, jika ada kekerasan fisik

Segera akhiri hubungan, jika ada kekerasan fisik

Kamis, 18 Oktober 2018 - 20:53 WIB

IMG-1045

Kekerasan fisik dalam pacaran harus segera diakhiri, karena berpotensi akan meningkat saat setelah menikah.

JAKARTA, kini.co.id – KEKERASAN fisik yang terjadi di rumah tangga semakin marak terjadi. Namun, tindak kekerasan di luar ikatan perkawinan antara pasangan yang masih berpacaran pun bisa terjadi.

“Seperti yang tadinya janji tidak ditepati sampai (ada yang) marah dan sebagainya, lalu terjadi kekerasan fisik dan lain sebagainya.” Demikian kata Asisten Deputi bidang Perlindungan Hak Perempuan dari KDRT Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ali Khasan.

Dia menuturkan itu seusai acara sosialisasi pencegahan KDRT di Manokwari, Rabu (17/10/2018) kemarin.

Pada masa tersebut, dua insan bisa saling mengenal kepribadian satu sama lain dan berujung pada kehidupan baru yang bahagia. Ali menyayangkan ketika “pacaran” tak lagi diartikan sama.

Misalnya, sebagian orang yang berpacaran karena salah satu pihak dianggap kaya raya. Dalam pacaran tentu saja ada perselisihan, namun idealnya tak berujung pada kekerasan. Jika memang tak ada kecocokan, kata Ali, maka dua pihak yang menjalani hubungan tak perlu melanjutkan relasi itu ke jenjang pernikahan.

“Kalau tidak cocok, ada kekerasan dan sebagainya, ya sudah tidak usah berlanjut. Kalau ada kecocokan baru lanjut,” tutur Ali. Baca juga: Hai Perempuan, Lakukan Ini untuk Bangkit dari Trauma Kekerasan…

Meski kekerasan dalam pacaran juga terjadi, namun Kementerian PPPA tak menyusun data terkait kasus semacam ini. Lagi pula, Ali meyakini, jumlahnya tak semarak atau serumit kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Dia menuturkan, untuk kasus KDRT bahkan sudah diatur sendiri dalam undang-undang. Ketika kasus kekerasan dalam pacaran terjadi, korban bisa saja melaporkannya ke penegak hukum. Namun, korban perlu mengklasifikasikan kasusnya terlebih dahulu.

Misalnya, ketika menyangkut anak, maka masuk kategori undang-undang perlindungan anak. Atau, jika masuk ke perdagangan orang, maka berlaku undang-undang tentang tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

“Kekerasan yang terjadi masuk kategori mana? Biar pihak berwajib melihat unsurnya dulu.” “Memberikan kategori dan menentukan masuk delik mana itu tidak mudah. Dudukkan dulu masalahnya,” kata Ali.

Editor: Emerson

KOMENTAR ANDA
Berita Gaya Terkini Lainnya
Hikmah - Selasa, 29 Januari 2019 - 19:46 WIB

Kehadiran Jan Ethes dipersoalkan BPN Prabowo

KEHADIRAN cucu Joko Widodo, Jan Ethes, dalam berbagai kesempatan, dipersoalkan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno. Pasalnya pelibatan ...
Hikmah - Kamis, 17 Januari 2019 - 17:54 WIB

Minta maaf kepada pembenci, Ahok minta tidak usah disambut

BASUKI Tjahaja Purnama alias Ahok, mantan gubernur DKI, segera akan menghirup udara bebas pada 24 Januari 2019. Tanggal tersebut sangat ...
Hikmah - Rabu, 16 Januari 2019 - 16:10 WIB

Ahok segera bebas, dia dijemput keluarga di Mako Brimob

BASUKI Tjahaja Purnama alias Ahok dijadwalkan bebas pada 24 Januari 2019 mendatang. Mantan Gubernur DKI itu akan keluar dari Mako ...
Health - Senin, 14 Januari 2019 - 10:29 WIB

Suka Tidur Pakai Kipas Angin, Ini Bahayanya

Kipas angin seringkali menjadi pilihan untuk menyejukkan ruangan selain Air Conditioner. Kipas angin yang lebih ekonomis dan juga praktis karena ...
Health - Senin, 14 Januari 2019 - 10:16 WIB

Anak Tidak Diimunisasi Benarkah Tetap Sehat?

Seiring pemerintah menggalakkan program imunisasi untuk anak-anak, muncul juga kaum yang berbeda pendapat.Menurut mereka, anak-anak mereka sehat-sehat saja meski tidak ...
Trends - Jumat, 11 Januari 2019 - 14:44 WIB

Diajak ML Sama Pacar, Begini Cara Menolaknya

Seks bebas seperti sudah menjadi makanan sehari-hari remaja di Indonesia. Mereka yang pacaran sudah gampang saja melakukan hubungan seks bagaikan ...